Al-Qur’an dan Hadits Tentang Tazkiyatun Nafs

127

Al-Qur’an dan Hadits Tentang Tazkiyatun Nafs. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya dari dosa-dosa, membersihkannya dari kotoran-kotoran dan melembutkannya dengan ketaatan kepada Allah serta meninggikannya dengan ilmu yang bermanfaat dan amal saleh.

Allah berfirman,  “Dan demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS: asy Syams: 7 – 10).

Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Rabbnya, lalu dia mengerjakan shalat.“ (QS: al A’laa: 14-15).

Tazkiyaun nufus merupakan salah satu tugas pokok para nabi. Karena itu, ketika Musa mendakwahi Fir’aun, ia berkata kepadanya, : “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu, agar supaya kamu takut kepadaNya?”(QS: an Naazi’aat: 18 -19).

Tazkiyaun nufus menjadi syarat untuk meraih derajat yang tinggi dan kenikmatan abadi. Allah berfirman, “Dan barangsiapa datang kepada Rabbnya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal shalih, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh ternpat-tempat yang tinggi (mulia). (yaitu) surga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan).“ (QS. Thaha: 75 – 76).

Maksudnya, bahwa balasan bagi orang yang mensucikan dirinya dari kotoran, kekejian dan syirik, dan ia hanya menyembah kepada Allah semata, dan mengikuti semua ajaran yang dibawa oleh para rasul, dalam masalah kabar berita (aqidah) maupun dalam hal perintah dan larangan (syari’at).

Merealisasikan tauhid merupakan Jalan terbesar dan terpenting untuk tazkiyatun nufus. Allah berfirman, : “Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti karnu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Rabb kamu adalah Rabb Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya, dan rnohonlah ampun kepadaNya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan(Nya), (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS. Fushshilat: 6 – 7).

Kebanyakan mufassir (para ahli tafsir) dari kalangan salaf maupun orang-orang sesudahnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata zakat dalam ayat di atas ialah tauhid: syahadat “La Ilaaha Illallah” dan Iman; yang dengannya, hati menjadi bersih. Karena tauhid itu menolak adanya Tuhan dan sesembahan selain Allah dari hati. Yang demikan itu merupakan pangkal kesuciannya. Adapun penetapan uluhiyyah Allah dalam hati, ialah pangkal hidup dan berkembangnya hati.

Allah dalam ayat di atas menyebut tauhid dengan istilah zakat sehagaimana Allah menyebut syirik dengan najis. Allah berfirman, : “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, Maka janganlah mereka rnendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Iagi Maha Bijaksana.” (QS.at Taubah:28).

Hadits-Hadits Tentang Tazkiyatun Nufus
Tazkiyaun nufus merupakan salah satu hajat utama yang diminta Rasulullah. Dalam do’anya, Rasululah mengatakan: : “Ya Allah berikanlah ketaqwaan kepada diriku ini dan sucikanlah ia, Engkau adalah sebaikbaik Dzat yang mensucikannya, Engkau adalah Penolong dan Tuannya.” (HR Muslim. 2722).

“Beritahukanlah kepadaku. seandainya ada sungai di depan pintu salah seorang kamu. lalu ia mandi di dalamnya setiap hari lima kali, apa pendapatmu, apakah ia masih menyisakan kotoran padanya?” Mereka menjawab, “Dia tentu tidak menyisakan sedikitpun dari kotorannya.’ Beliau bersabda, “Demikian itulah perumpamaan shalat lima waktu. Dengannya Allah menghapus dosa-dosa.

“Sesungguhnya sedekah itu adalah kotoran-kotoran mnnusia yang mereka sucikan dari diri mereka,” [4]

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Ad-Darda’ Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, Di dalam Sunan at-Tirmidzi disebutkan dari Jabir Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, : “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian, paling dekat dengan majelisnya kepadaku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya. Dan saesungguhnya orang yang paling aku benci di antara kalian dan paling jauh majelisnya dariku pada hari kiamat adalah orang yang banyak berceloteh, lebar mulut dan al-mutafaihiquun. ” Mereka berkata, “Kami telah mengetahui orang yang banyak berceloteh dan lebar mulut, lalu apa yang dimaksud dengan al-mutafaihiquun?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang sombong”.

BAGIKAN
Berita sebelumyaBahaya Cinta Dunia
Berita berikutnyaKisahAhli Ibadah Berakhir Di Neraka
Sengsara membuat kita berfikir, dan berfikir membuat kita bijaksana