Janganlah Anda Bergembira Karena Taatmu

173

 

Janganlah anda bergembira karena taatmu, karena itu muncul dari diri anda. Bergembiralah dengan taat itu, karena ketaatan itu muncul dari Allah Ta’ala sebagai anugerah padamu.”

Taat atau kepatuhan kita kepada Allah merupakan salah satu intisari dari aspek ubudiyah yang dicintai Allah, dan kegembiraan terhadap kepatuhan itu merupakan persoalan yang naluriah.

Namun kenapa kita dilarang oleh Ibnu Athaillah untuk merasa bergembira atas ketaatan kita? Yang dilarang manakala, bahwa kita bergembira karena kita merasa bisa, merasa mampu, merasa bisa, bahwa taat itu adalah prestasi dan usaha kita.

Kita boleh bergembira manakala kita merasakan bahwa taat kita adalah kehendak Ilahi demi anugerahNya yang turun pada diri kita. Artinya jika Allah memberikan pertolongan kepada kita, sang hamba dianugerahi kemampuan untuk taat kepadaNya. Sebaliknya bila Allah ingin merendah-hinakan hambaNya, maka si hamba dibukakan pintu hawanafsunya untuk maksiat kepadaNya.

Syeikh Zaruq menegaskan: Hamba Allah itu bergembira atas ketaatannya, dalam tiga tahap.

  1. Pertama, kegembiraan yang muncul disebabkan adanya pahala dibalik taat, atau terhindar dari siksaNya.
  2. Kedua, kegembiraan disebabkan taat itu yang bisa menjernihkan, membersihkan dan menyucikan dirinya, atas prestasi taatnya.
  3. Ketiga, gembira karena taatnya sang hamba merupakan bentuk Taufiqnya Allah, sehingga ia mampu melaksanakan perintah dan menghindari laranganNya.

Yang terakhir (ketiga) lebih tinggi dibanding yang kedua, begitu juga yang kedua lebih tinggi dibanding yang pertama. Sebab yang ketiga, senantiasa disongsong rasa syukur oleh si hamba, sedangkan yang kedua, si hamba malah bisa kagum pada prestasi amalnya, dan yang pertama, si hamba bergantung atau mengandalkan amalnya. Oleh sebab itu Allah Ta’ala berfirman:

Katakan, dengan Fadhal Allah dan RahmatNya, maka dengan keduanya, hendaknya mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Ini menunjukkan bahwa kegembiraan kita tidak boleh dilatari oleh amaliyah kita, tetapi dilatari oleh Fadhal dan RahmatNya, kita gembira. Karena Fadhal dan rahmat itulah yang membuat kita bisa taat.

Mengenang dan mengingat anugerah Allah, Fadhal dan RahmatNya membuat kita terus bergembira dan terus menerus menambah syukur kita. “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku tambah nikmatKu kepadamu,” demikian Allah berfirman. Wallau a’lam (zh@fi)